Cari

Memuat...

Breaking News

Recent Posts

SANG PEMELUK TEGUH

Oleh : Godi Suwarna

Pun Bapa, 90 taun, kalebet pengurus Golkar munggaran di lembur, dina taun 60-an. Sanès ketua, da ari ketuana mah langsung ku Danramil, saurna. Tangtos kana galakna. Jaman harita tèa. Jaman "Gestapu" alias "Gestok."
Nya kitu, Pun Bapa tèh Golkar lembur nan pangkahotna. Tos teu aya sasamana. Jatining Golkar wè sugan mah. Lami sabada pangsiun, anjeunna angger sok ngabandungan ketak Golkar, sok sanaos teu kantos diuntungkeun sacaranyah harta-banda, sok sanaos sering pisan digareuhgeuykeun ku para putra-putuna.
Waktos pemilihan ketum Golkar kamari, nya anjeunna nyalira nu husu ngabandungan wartana tina TV. Dibèlaan tidengo-dengo kana layar TV da tos rada kirang dangu sareng kirang tingal. Dibèlaan gètrèng sareng Ingkang Buyut nu palayeun nongton kartun. Daria, alahbatan Pun Biang nongton tèlènovela.
Na atuh, sabada Setya Novanto diparilih janten Ketum Golkar, anjeunna katingal sapertos nu diketig punduk. Pias. Calangap. Waos palsuna semu nyanggèrèng. Molotot. Awor antawis soak, ijid, gila sareng kabur pangacian. Kantenan, sim uing paur, inggis, bok bilih anjeunna luluasan neleg kopèahna.
"MARANÈH NGANYERIKEUN HATÈ RAHAYAT! GEUS AING MOAL MILIH GOLKAR!" kitu saurna, saur panganut teguh Golkar pamungkas di lembur, saparantos leler tina rupining kaharendegna.
Barina gè saha teuing atuh jalmi reugeujeug jaman kiwari nu badè milih Golkar, Apa, Aki, Uyut? Tos wè Apa diangkat ku abdi janten Ketua Dèwan Syuro Partey Golput Nasional. Okèh, Pa? Haha...!
*
(Katrangan potrèt: Pun Bapa badè jalan-jalan ka kota, didangdosan ku Pun Biang. CINTA ABADI)
Read more ...

Penyederhanaan Pendidikan

Penyelenggaraan pendidikan perlu manajemen yang sederhana. Dimulai dari buat apa seseorang itu bersekolah ?

Dengan pendekatan sistem dapat diuraikan keruwetan pendidikan di Indonesia. Untuk itu dibutuhkan "benchmarking" dengan sistem pendidikan di luar negeri.

Kelemahan dari bangsa ini untuk lebih maju dengan bangsa lain adalah kelemahan dalam membuat kebijakan, membuat aturan, membuat organisasi yang ramping dan efisien.

Inti pendidikan formal adanya di dalam kelas di suatu sekolah. Bukan diluar itu, seperti kurikulum, lingkungan sekolah, maupun sarana dan prasarana.

Untuk perbandingan dengan sekolah lain dapat dibuatkan ilustrasinya.

Di Findlandia anak baru bersekolah setelah usia mencapai 7 tahun, sebelum itu anak diberi kebebasan untuk bermain dan bermain.








Usia anak sebelum mencapai 7 tahun penuh daya imajinasi.  Pemaksaan anak usia dini untuk bersekolah dapat mematikan daya imajinasi seorang anak.  Imajinasi adalah dasar untuk inovasi. Suatu pola pikir bebas yang tidak ada batasnya.


Belajar itu membutuhkan kesiapan mental dan fisik, untuk itu belajar butuh penyegaran mental melalui jeda dalam belajar.  Belajar banyak malah lupanya akan makin banyak.

Fokus akan hilang ketika belajar terlalu lama. Ada kejenuhan yang dialami siswa. Kemampuan dan daya tahan otak manusia normal itu terbatas.
Tidak semua orang mempunyai daya tahan untuk tetap fokus pada suatu pelajaran.
Efektif belajar selama 45 menit, dan istirahan 15 menit.





Anak SD dan SMP belajar seharinya hanya 4 - 5 jam, anak sekolah menengah dan atas diperlakukan seperti anak di bangku kuliahan.
Lebih baik belajar sedikit namun berkesan lebih banyak.  Seperti pot bunga yang disirami air, akan terserap sedikit demi sedikit dibandingkan dengan menyiram air sekaligus.

Peran guru sangat penting untuk melihat kemampuan siswa dalam pemahaman (kognisi) dari seorang murid.

Hanya guru sejatinya yang tahu apa kebutuhan siswanya, apa kelebihan siswanya dan bagaimana memberikan pemahaman dan wawasan kepada seorang siswa.



Tak ada ranking, pada dasarnya semua anak itu pintar.  Penggalian potensi dan atensi siswa berbeda beda.  Ada siswa belajar cepat dan ada pula siswa yang belajar lambat.


Pengenalan potensi diri per masing-masing siswa menyadarkan akan kelebihan dan kekurangan orang lain.|
Pembuatan ranking dapat mengakibatkan stigmatisasi siswa menjadi orang bodoh seumur hidupnya. Atau sebaliknya siswa rangking 1 menjadi frustasi ketika ia tidak lolos saringan atau seleksi jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Itulah gambar pendidikan yang sederhana yang dilakukan di Finladia.

Read more ...

Belajar Banyak Dapet Sedikit

Sekolah SMA sederajat pada dasarnya belajar banyak materi pelajaran namun sedikit yang terserap.

Ini dapat dilihat dari mata pelajaran yang diajarkan. Fisika, Kimia, Matematika, Biologi, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dsb.

Ke tujuh materi itu semua diujikan pada seleksi masuk perguruan tinggi. Materi Ujian seleksi dari ke-7 mapel itu diambil secara random. Misalnya dari masing-masing Mapel diambil 20 soal. Materi Soal mana yang akan keluar sulit untuk ditebak.

Akibat materi yang diberikan banyak, sedangkan soal yang diujikan diperas menjadi 20,  siswa menjadi untung-untungan dalam mengikuti seleksi SBMPTN.

Membaca data dari Bimbel ternama, pencapaian nilai peserta rata-rata di bawah 40%.  Entah darimana soal yang diujikan makin lama makin sulit, dengan metode pilihan berganda.   Artinya yang belajar serius dengan yang tebak-tebakan 'sistem kancing'  peluangnya sama.

Karena sangat sulitnya soal yang diujikan, sama saja siswa yang ikut belajar intensif, dengan siswa yang asal belajar namun pada saat testing menggunakan sistem acak, tebak pilihan jawaban.

Perlu upaya 'menyambungkan kurikulum' antara Perguruan Tinggi dengan SMA sederajat.  Ada kesatuan jenjang kurikulum antara SMA dengan Perguruan Tinggi.  Dari SD nyambung ke SMP dan dari SMP nyambung ke SMA.  Namun entah mengapa, dari SMA tidak ada kesinambungan dengan Perguruan Tinggi.

Untuk itu perlu ada penyatuan satu atap pendidikan yaitu dibawah KEMENDIKBUD. Saat ini Perguruan Tinggi ada di bawah KEMENTRIAN RISTEK.

Demikian pula perlu penyederhanaan mata pelajaran agar siswa 'meskipun belajar sedikit' namun mendapat pemahaman yang mendalam, atau pengertian yang medalam terhadap suatu materi pelajaran.

Siswa SMA tidak terjebak oleh bagaimana menjawab soal Fisika, Kimia, atau Matemika berdasarkan rumus-rumus yang ada, namun siswa diarahkan untuk memahami bagaimana terciptanya semua rumus-rumus yang ada.



Read more ...

Profil Guru Masa Depan

Oleh : BAMBANG SUGIHARTO

MENGAJAR hanya dapat dilakukan dengan baik dan benar oleh seseorang yang telah melewati pendidikan tertentu yang memang dirancang untuk mempersiapkan guru. Dengan kata lain, mengajar merupakan suatu profesi.

Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan masyarakat, muncul dua kecenderungan: Pertama, proses mengajar menjadi sesuatu kegiatan yang semakin bervariasi, kompleks, dan rumit.

Kedua, ada kecenderungan pemegang otoritas struktural, ingin memaksakan kepada guru untuk mempergunakan suatu cara mengajar yang kompleks dan sulit.

Sebagai akibat munculnya dua kecenderungan di atas, guru dituntut untuk menguasai berbagai metode mengajar dan diharuskan menggunakan metode tersebut. Misalnya, mengharuskan mengajar dengan CBSA. Untuk itu, guru harus dilatih dengan berbagai metode dan perilaku mengajar yang dianggap canggih.

Demikian pula, di lembaga pendidikan guru, para mahasiswa diharuskan menempuh berbagai mata kuliah yang berkaitan dengan mengajar. Namun sejauh ini perkembangan mengajar yang semakin kompleks dan rumit belum memberikan dampak terhadap mutu siswa secara signifikan.

Tidaklah mengherankan kalau kemudian muncul pertanyaan mengapa mengajar menjadi sedemikan kompleks dan rumit?

Mengajar merupakan suatu seni untuk mentransfer pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai yang diarahkan oleh nilai-nilai pendidikan, kebutuhan-kebutuhan individu siswa, kondisi lingkungan, dan keyakinan yang dimiliki oleh guru.

Dalam proses belajar mengajar, guru adalah orang yang akan mengembangkan suasana bebas bagi siswa untuk mengkaji apa yang menarik, mengekspresikan ide-ide dan kreativitasnya dalam batas norma-norma yang ditegakkan secara konsisten. Sekaligus guru akan berperan sebagai model bagi para siswa.

Kebesaran jiwa, wawasan dan pengetahuan guru atas perkembangan masyarakatnya akan mengantarkan para siswa untuk dapat berpikir melewati batasbatas kekinian, berpikir untuk menciptakan masa depan yang lebih baik. Dalam melaksanakan tugas tersebut guru akan dihadapkan pada perbagai problem yang muncul dan sebagian besar problem tersebut harus segera dipecahkan serta diputuskan pemecahannya oteh guru itu sendiri pada waktu itu pula. Sebagai konsekuensinya, yang akan dan harus dilakukan oleh guru tidak mungkin dapat dirumuskan dalam suatu prosedur yang baku.

Proses transfer pengetahuan atau sering dikenal dengan istilah Proses Belajar Mengajar (PBM) memiliki dua dimensi. Pertama adalah aspek kegiatan siswa: Apakah kegiatan yang dilakukan siswa bersifat individual atau bersifat kelompok. Kedua, aspek orientasi guru atas kegiatan siswa: Apakah difokuskan pada individu atau kelompok.

Berdasarkan dua dimensi yang masing-masing memiliki dua kutub tersebut terdapat empat model pelaksanaan PBM, yaitu:

Pertama, apa yang disebut Self-Study. Yakni, kegiatan siswa dilaksanakan secara individual dan orientasi guru dalam mengajar juga bersifat individu. Model pertama ini memusatkan perhatian pada diri siswa. Agar siswa dapat memusatkan perhatian perlu diarahkan oleh dirinya sendiri dan bantuan dari luar, yakni guru. Siswa harus dapat mengintegrasikan pengetahuan yang baru diterima ke dalam pengetahuan yang telah dimiliki. Untuk pelaksanaan model Self-Study ini perlu didukung dengan peralatan teknologi, seperti komputer. Keberhasilan model ini ditentukan terutama oleh kesadaran dan tanggung jawab pada diri sendiri.

Kedua, apa yang dikenal dengan istilah cara mengajar tradisional. Model ini memiliki aktivitas siswa bersifat individual dan orientasi guru mengarah pada kelompok. Pada model ini kegiatan utama siswa adalah mendengar dan mencatat apa yang diceramahkan guru. Seberapa jauh siswa dapat mendengar apa yang diceramahkan guru tergantung pada ritme guru membawakan ceramah itu sendiri. Siswa akan dapat mengintegrasikan apa yang didengar ke dalam pengetahuan yang telah dimiliki apabila siswa dapat mengkaitkan pengetahuan dengan apa yang diingat. Model ini sangat sederhana, tidak memerlukan dukungan teknologi, cukup papan tulis dan kapur. Keberhasilan model ini banyak ditentukan oleh otoritas guru.

Ketiga, apa yang disebut model Persaingan. Model ini memiliki aktivitas yang bersifat kelompok, tetapi orientasi guru bersifat individu. Model ini menekankan partisipasi siswa dalam kegiatan PBM, semua siswa harus aktif dalam kegiatan kelompok tersebut. Seberapa jauh siswa dapat berpartisipasi dalam kegiatan akan ditentukan oteh seberapa jauh kegiatan memiliki kebebasan dan dapat membangkitkan semangat kompetisi. Pengetahuan yang diperoleh dan dapat dihayati merupakan hasil diskusi dengan temannya. Model ini memerlukan teknologi baik berupa alat ataupun berupa manajemen seperti bentuk konferensi dan seminar. Keberhasilan model ini terutama ditentukan oleh adanya saling hormat dan saling mempercayai di antara siswa. CBSA, merupakan salah satu contohnya.

Keempat, apa yang dikenal dengan istilah Model Cooperative-Collaborcitive. Model ini memiliki aktivitas siswa yang bersifat kelompok dan orientasi guru juga bersifat kelompok. Model ini menekankan kerjasama di antara para siswa, khususnya. Kegiatan siswa di arahkan untuk mencapai tujuan bersama yang telah merupakan konsensus di antara mereka. Konsensus ini didasarkan pada nilai-nilai yang dihayati bersama. Oleh karena itu, dalam kelompok akan senantiasa dikembangkan pengambilan keputusan. Kebersamaan dan kerjasama dalam pembelajaran merupakan kerjasama di antara para siswa untuk mencapai tujuan belajar bersama.

Agar dapat melaksanakan empat langkah tersebut di atas, guru hanya memerlukan tiga kemampuan dasar, yakni

a) didaktik, yakni kemampuan untuk menyampaikan sesuatu secara oral atau ceramah, yang dibantu dengan buku teks, demontrasi, tes, dan alat bantu tradisional lain;

b) coaching, guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk berlatih dan mempraktikan keterampilannya, mengamati sejauh mana siswa mampu mempraktekkan keterampilan tersebut, serta segera memberikan umpan balik atas apa yang dilakukan siswa; dan,

c) socratic atau mauitic question, guru menggunakan pertanyaan pengarah untuk membantu siswa mengembangkan pandangan dan internalisasi terhadap materi yang dipelajari.

Tanpa menguasai tiga kemampuan dasar tersebut, ibaratnya pemain sepakbola yang tidak memiliki kemampuan dasar bermain bola, seperti bagaimana menendang atau heading yang baik dan benar, betapapun dididik dengan gaya samba Brazil atau gerendel Italia tetap saja tidak akan dapat memenangkan pertandingan. Demikian pula untuk guru, tanpa memiliki tiga kemampuan dasar tersebut, betapa pun para guru dilatih berbagai metode mengajar yang canggih tetap saja prestasi siswa tidak dapat ditingkatkan.

Sebaliknya, dengan menguasai tiga kemampuan dasar tersebut, metode mengajar apa pun akan dapat dilaksananakan dengan mudah oleh yang bersangkutan.

(Penulis, Bambang Soegiharto, Guru SMP Negeri 51 Bandung)*
http://www.klik-galamedia.com/profil-guru-masa-depan

Read more ...

Lain Harapan ICW Lain Pula Harapan Guru

Sembilan Pekerjaan Ruman Mendikbud Baru versi harapan Guru :

1. peningkatan pendapatan guru,
2. peningkatan pengetahuan dan keterampilan guru,
3. tersedianya sarana dan prasarana mengajar yang lengkap
4. perbaikan nasib anak guru,
5. penempatan guru yang luwes
6. kenaikan pangkat dan golongan 
7. jaminan  masa tua 
8. jaminan kesehatan
9. perumahan yang layak

JAKARTA - Setidaknya ada sembilan pekerjaan rumah (PR) yang harus diselesaikan menteri pendidikan baru. PR tersebut bervariasi, mulai mutu pendidikan hingga pembasmian praktik korupsi di kalangan kementerian.

Peneliti Divisi Monitoring Pelayanan Publik Indonesia Corruption Watch (ICW) Siti Juliantari menyatakan, sembilan PR itu harus diselesaikan Mendikbud Anies Baswedan dan Menteri Ristek dan Pendidikan Tinggi M Nasir.

"Kalau permasalahan ini tidak dicari jalan keluarnya, sama saja tidak ada perubahan. Apalagi dengan penggabungan dua kementerian, maka akan ada implikasi kinerja selama ini. Bagaimana pemindahan anggaran dan personalia," ujar Tari di Kantor ICW, Kalibata, Jakarta Selatan, Kamis (30/10/2014).

Kesembilan PR tersebut, kata Tari, meliputi perbaikan akses pendidikan, peningkatan akses pendidikan, dan peningkatan akses pendidikan. Kemudian, terkait penghentian implementasi kurikulum serta penghapusan ujian nasional (UN).

"Selanjutnya, revisi Undang-Undang Pendidikan Nasional, meningkatkan efektivitas koordinasi kebijakan dan program pemerintah di tingkat pusat dan daerah, serta mengkaji prioritas anggaran pendidikan. Terakhir, mengurangi dan melawan praktik korupsi di sektor pendidikan," ungkapnya.

Peneliti lainnya dari Divisi Monitoring Pelayanan Publik ICW, Febri Hendri, menambahkan, persoalan pendidikan di Indonesia memang sangat luas. Oleh karena itu, dia mengimbau mendikbud baru mampu membuka diri dan menerima saran dari berbagai pihak untuk mengatasi persoalan tersebut.

"Pendidikan di Indonesia sangat kompleks dan mempunyai permasalahan yang luas. Kami harapkan mendikbud baru bisa memulai pekerjaannya dengan cara yang elegan dan mau menerima masukan dari berbagai pihak," imbuh Febri.
Read more ...

Ribuan Anak Guru Honorer Terancam Putus Sekolah


BANDUNG,(GM).-
Ribuan anak guru honorer di Kota Bandung terancam putus sekolah. Hal itu seiring dengan mahalnya biaya sekolah SMA/SMK saat ini.

Ketua Forum Komunikasi Guru Honorer (FKGH) Kota Bandung, Yanyan Herdiyan mengatakan, tingginya biaya sekolah di Kota Bandung membuat para guru honorer di Kota Bandung menjadi resah.

Mereka khawatir tidak bisa menyekolahkan anaknya ke jenjang SMA/SMK. Saat ini jumlah guru honorer di Kota Bandung sendiri mencapai sekitar 20.479 orang.
"Biaya sekolah untuk ke SMA/SMK saat ini sangat mahal. Artinya akan ada ribuan anak guru honorer yang putus sekolah dan tidak bisa melanjutkan sekolahnya ke tingkat SMA/SMK," jelas Yanyan, Jumat (14/11).

Dikatakannya, hal tersebut tidak menutup kemungkinan bisa terjadi. Pasalnya, pendapatan para guru honorer di Kota Bandung sendiri sangat minim.

"Rata-rata pendapatan guru honorer itu sekitar Rp 300 ribu hingga Rp 500 ribu. Itu sangat minim, jangankan untuk biaya sekolah anaknya untuk mencukupi kehidupan sehari hari saja sudah morat marit," katanya.

"Kita berharap dinas pendidikan dan DPRD Kota Bandung maupun DPRD Provinsi Jabar bisa memperhatikan itu, karena pendapatannya tidak layak," katanya. 
Read more ...
Designed By VungTauZ.Com